Demo Site

Sunday, May 9, 2010

Kutukan Foto Leluhur

Gubrak!

Terdengar jeritan bingkai foto di kamar belakang. Tampaknya lagi-lagi foto kakek buyutku terjatuh; dan sudah jelas bahwa penyebabnya adalah adikku yang sedang bermain bola. Engkongku yang tinggal serumah denganku pun mukanya langsung panas dan menarikku dari kamarku. Dengan terpaksa aku pun harus menghentikan chattingan-ku dengan seorang teman.

 

“Mei Lin!!! Lagi-lagi kamu menjatuhkan foto kesayangan engkong! Dimana rasa hormatmu?!” Dan seperti biasa, aku yang disalahkan lagi. Seberapa kuat pun aku mengelak, namun tetap saja ia tak dapat percaya dengan diriku; hanya karena aku lah yang paling tidak suka dengan paksaannya untuk bersikap hormat pada leluhur. Memang apa pentingnya menghormati orang yang sudah meninggal? Toh, mereka lebih peduli dengan keadaan mereka di atas sana dibanding dengan kita yang masih hidup.

 

“Adikmu masih kecil! Masih 3 tahun! Tahu apa dia soal leluhur?! Harusnya kamu sebagai kakak yang menegur dia, tapi apa yang kamu lakukan?! Membiarkan dia merusak wajah kakek buyutmu sendiri!” Itulah, teguran yang selalu dikatakan engkongku. Aku tak dapat membantah walau aku tahu aku tidak benar-benar salah, namun aku tentu saja lebih menghormati ia yang masih hidup dibandingkan dengan yang sudah meninggal. Itulah satu-satunya alasan aku bertahan.

 

15 tahun sudah aku hidup dibawah naungan paksaan dari engkongku untuk menghormati leluhur. Kini sudah abad ke-21, jaman sudah berubah dan aku semakin besar; namun engkongku tetaplah engkongku yang lama. Disamping karena budaya Tiongkoknya yang masih kuat, ia juga sangat mengagumi kedua orang tuanya sendiri.

 

Nenek buyutku adalah seorang yang berani dan merupakan seorang pedagang dari Cina yang datang dan tinggal di Indonesia untuk melakukan perdagangan gelap dengan Belanda pada saat itu. Namun, hasilnya sangat berlimpah dan ia pun menjadi kaya karenanya. Sementara, kakek buyutku adalah saudagar kapal sekaligus pelaut di Cina yang memiiki banyak sekali kapal untuk disewa. Konon, kakek dan nenek buyutku bertemu karena nenek buyutku ingin menyewa sebuah kapal darinya untuk datang ke Indonesia. Mereka pun lalu saling menyukai dan menikah.

 

Setelah puas mencaci maki diriku, aku pun lari ke kamar dan tiduran. Aku tidak ngantuk namun hatiku masih tertekan karena kejadian tadi. Karena tidak ada yang bisa kulakukan lagi, aku pun segera menyelesaikan tugas untuk esoknya dan mematikan komputer. Walaupun baru jamnya makan malam, namun aku merasa tidak lapar dan segera memejamkan mataku di atas kasur, lalu terjun ke alam mimpi.

 

Esok harinya di sekolah, aku segera menemui teman baikku, Mimi. Segera saja aku menceritakan segala kejadian yang terjadi kemarin dan Mimi hanya dapat menepuk pundakku. “Sudahlah Pamela, namanya juga orang tua ya kayak gitu udah biasa lah buat mereka.” Hibur Mimi. “Uukkhh! Kenapa sih hidup tuh harus kayak gini! Mesti patuh aturan ini itu, bikin kesel aja!” Keluhku sambil memeluk Mimi. Mimi hanya bisa menghela nafas dan kembali mencoba menghibur, “Sabar aja lah Pam, eh by the way, ntar kita jalan yuk! Buat refreshing gitu loh, daripada ngeliatin elo suntuk gini!”

 

Bel pulang sekolah pun berbunyi; dan semua murid langsung berhamburan keluar dari kelas bagaikan gas yang keluar dari sebuah botol berisi minuman bersoda. Mimi dan teman-teman yang lain langsung menarikku menuju mobilnya dan kami langsung jalan ke sebuah mall yang cukup besar. Selagi menunggu yang lainnya, kami pun berbincang mengenai masalah diriku di rumah, di sebuah kafe yang cukup ternama.

 

“Jadi gimana engkong lo itu? Masih marah ama dia?”, “Gimana gak kesel? Gue mulu yang disalahin!”, “Ya maklum lah, lagipula bentar lagi kita kuliah, katanya elo udah mutusin mau kuliah di luar negri? Berarti jaoh dong dari engkong lo itu!”, “Iya sih, tapi kan masih dua tahun lagi! Gue bisa budek duluan ngedengerin omelannya dia!” Mimi pun hanya tertawa mendengarnya dan tak lama kemudian teman-teman yang lain datang. Kita pun kembali melanjutkan momen ini untuk melepas stresnya sekolah dan keadaan rumah.

 

Tak lama kemudian, tiba-tiba handphone-ku berdering. Tampaknya mamaku menelpon dan aku pun langsung mengangkatnya. “Mei Lin!!! Cepat pulang ke rumah!!! Engkongmu kena struk!”, “Hah?! Ada apa?!”, “Ntar aja mama jelasinnya! Sekarang kamu pulang dulu!”

 

Dengan perasaan gusar, aku mematung di tempat tanpa bisa berkata apa-apa. Mimi yang melihatku bengong langsung menegurku, “Pam! Pam! Ada apa? Kok elo pucet gitu sih?” Tanpa menghiraukan Mimi, aku segera berlari menuju lobby mall dan mencari sebuah taksi yang kosong. Sebelum sempat aku duduk, aku langsung berteriak, “Kebon Sirih pak! Detilnya ntar aja! Darurat!!!”

 

Sesampainya di rumah, aku segera cepat-cepat membayar tanpa menunggu kembaliannya lagi. Aku segera menyeruak masuk diantara keramaian dan mendapati engkongku tergeletak di lantai tak bergeming. Di tangannya, ia memegang erat foto kedua orang tuanya. Pandangannya kosong dan mulutnya ternganga serta berbusa. Wajahnya terlihat pucat dan kaku; nampaknya ia benar-benar terkena struk. Sebuah ambulans pun sampai tak lama kemudian, dan engkongku pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat; hanya 10 menit dari rumah.

 

Di rumah sakit, mamaku langsung menceritakan semuanya sambil menangis. Ia berkata bahwa engkongku langsung struk setelah mengetahui bahwa kaca pelindung foto kakek buyutku retak dan bingkai nenek buyutku tergores. Ia struk karena takut keluarganya mendapatkan sebuah kutukan dari mereka berdua, akibat telah merusakkan keindahan foto mereka. Sungguh, aku tak tahu harus menganggap engkongku itu bodoh, bijak, setia atau apa; namun aku sungguh tak mengira alasannya benar-benar sepele.

 

Mamaku lalu memeluk pundakku dan menceritakan sedikit dari kisah hidup engkongku dan orang tuanya. Engkongku ketika masih muda adalah seseorang yang menolak untuk bersekutu dengan siapapun, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh atas idealisme mereka sendiri, sehingga siapapun yang mendesak mereka tak mungkin merubah keputusan mereka.

 

Setelah Jepang menguasai Indonesia, nenek buyutku kehilangan sumber penghasilannya dan ia tak mungkin melakukan perdagangan dengan Jepang; karena ia dianggap bersekutu dengan Belanda. Karena kakek buyutku yang seorang saudagar kapal yang sangat sukses, ia tak menghindari kesempatan ini dan segera saja ia mengeruk banyak keuntungan dengan menyewakan kapal untuk kedua belah pihak-Jepang dan Indonesia.

 

Namun tak lama kemudian, kakek buyutku ditangkap Jepang karena dianggap berkhianat dengan menyewakan kapal kepada pihak Indonesia pula. Kakek buyutku tak membantah dan mengakui bahwa ia melakukan hubungan dengan Indonesia; namun ia mengelak telah berkhianat karena apa yang ia lakukan hanyalah sekedar bisnis semata dimana ia tidak pilih-pilih penyewa. Ia benar-benar seorang pebisnis jujur yang keras kepala, namun menjunjung tinggi idealismenya.

 

Karena dianggap melawan, kakek buyutku lalu dieksekusi oleh Jepang; dan yang tersisa hanyalah nenek buyutku. Dengan emas dan harta yang ditinggalkan kakek buyutku, nenek buyutku kembali mencoba membangun bisnis yang baru demi menghidupi kakekku; dan semua itu ia lakukan dengan tulus, tanpa bantuan dari orang lain maupun sanak saudara atau teman-temannya sendiri.

 

Karena sifat mereka yang independen itulah, kakekku menjadi sangat menghormati mereka dan mengharapkan anak cucunya menghargai mereka pula dengan kedok mendewakan leluhur. Namun karena usianya yang semakin lanjut, ia melupakan maksud sebenarnya sikap yang ia ajarkan kepada keluarganya untuk menghormati leluhur sebagai manusia; dan tenggelam pada idealisme yang salah, bahwa leluhur adalah mereka yang memberikan kemakmuran dan bencana-tergantung dari sikap anak cucunya terhadap mereka.

 

Untuk mengakhiri ceritanya, mamaku sambil menangis, lalu menyelesaikannya dengan beberapa kalimat, “Sekarang apa yang telah ia perbuat. Ia menjadikanmu cuek dengan yang lebih tua karena sikapnya yang keras kepala dan menekan. Kamu sadar kan kalo selama ini kamu jalan ke mall dengan teman, selalu tanpa pamit orang tua? Mama hanya bisa maklum, namun mama harap kamu sadar sekarang bila mama selalu mengkhawatirkan kamu.” Setelah menyelesaikan penjelasan terakhirnya, ia pun langsung beranjak dari tempat duduk untuk mengurus bagian administrasi; membiarkan aku merenungi diri.

 

Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, dokter menyatakan bahwa engkongku tak dapat diselamatkan lagi karena ia juga memiliki penyakit jantung. Ia pun segera dinyatakan meninggal karena serangan jantung dan struk. Upacara pemakaman segera disiapkan untuknya, dan selama hal tersebut berlangsung, aku hanya bisa duduk termenung, lagi. Namun kali ini aku menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada engkongku dan mengerti kejadian sebenarnya; karena aku hanya dapat mengambek dan bersikap tidak peduli. Ah, andaikan aku tahu alasan dan kisah sebenarnya dari kehidupan engkongku dan orang tua buyutku; pastilah kedua foto yang sangat berarti tersebut akan kujaga baik-baik.

 

Benar-benar, ternyata foto kedua orang tua buyutku memang membawa kutukan bila rusak; setidaknya hal tersebut terjadi pada engkongku dan berdampak pada kedua orang tuaku dan aku sendiri. Seandainya adat tersebut tidak ada, pastilah ia tak mengikat dirinya pada leluhur seperti ini. Namun, yasudahlah, seperti kata Mimi, namanya juga orang tua!

0 comments:

Post a Comment

Labels

Labels

Labels